Harga Beras di Alor Tembus Rp30 Ribu, Amran Perintahkan Bulog Kirim SPHP dan Bangun Gudang

0
Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman
Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman merangkul mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) asal Alor, Adriano Padama, setelah mendengar keluhan mengenai harga beras yang tinggi di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Dok: Ist

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memerintahkan Perum Bulog segera mengirimkan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta membangun gudang di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Instruksi tersebut disampaikan setelah menerima aspirasi Adriano Padama, mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Diponegoro (Undip) asal Kabupaten Alor, terkait tingginya harga beras di daerahnya yang saat musim hujan dapat mencapai Rp30.000 per kilogram.

“Oke, harga beras di sana cukup tinggi, kirim beras di sana dulu. Oke, hari ini ya. Ini Dirut tadi, kalau tidak ada gudang, bangun gudang di sana. Kemudian hari ini, sudah Dirut, kirim beras di sana. Dan insya Allah harganya cuma Rp12.500 ya,” ujar Amran dalam sambungan telepon dari Semarang, Jawa Tengah pada Kamis (6/8/2026).

Langkah taktis tersebut menjadi bagian dari upaya Bapanas dalam memastikan masyarakat di wilayah 3TP (tertinggal, terdepan, terluar, dan pedalaman) memperoleh akses pangan yang cukup dengan harga yang terjangkau. Amran menegaskan distribusi beras harus menjangkau seluruh wilayah di Kabupaten Alor.

“Merata sampai daerah seluruh pulau. Nanti, aku pantau,” kata Amran lagi ke Direktur Utama Bulog.

Adapun dalam catatan Bapanas, realisasi penyaluran beras SPHP di Kabupaten Alor selama periode Maret–Juli 2026 sudah mencapai 764.070 kilogram (kg). Penyaluran melalui Rumah Pangan Kita (RPK) sebanyak 356.470 kg, pengecer di pasar rakyat sebanyak 352.150 kg, dan Gerakan Pangan Murah (GPM) sebanyak 55.450 kg.

Selain melalui SPHP beras, pemerintah juga menyalurkan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dalam bentuk bantuan pangan beras dan minyak goreng. Hingga 31 Juli 2026, realisasi penyaluran bantuan pangan secara nasional telah mencapai 662.867.840 kg beras dan 132.573.568 liter minyak goreng, atau 99,70 persen dari target penyaluran kepada 33,24 juta Penerima Bantuan Pangan (PBP).

Khusus di Provinsi Nusa Tenggara Timur, penyaluran bantuan pangan tahap pertama telah terealisasi 100 persen kepada 837.612 PBP atau setara 16.752.240 kg. Untuk Kabupaten Alor juga telah tersalurkan sebanyak 746.000 kg. Dengan begitu, pemerintah telah menggelontorkan CBP untuk masyarakat Alor sebanyak 1,5 juta kg dari realisasi SPHP beras yang 764 ribu kg ditambah 746 ribu kg.

Sementara itu, untuk alokasi bantuan pangan Juli–September 2026, Kabupaten Alor memperoleh alokasi bagi 37.338 PBP. Alokasi tersebut memperkuat berbagai instrumen intervensi pemerintah untuk menjaga akses masyarakat terhadap pangan pokok di wilayah kepulauan.

Dengan penyaluran beras SPHP yang telah mencapai 764.070 kg selama periode Maret–Juli 2026 serta dukungan program bantuan pangan kepada 37.338 PBP di Kabupaten Alor, Bapanas bersama Bulog terus memperkuat intervensi pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan. Upaya tersebut dilakukan agar masyarakat, termasuk di wilayah kepulauan, tetap memperoleh beras dengan harga yang terjangkau serta pasokan yang memadai.

Adapun secara nasional, hingga 6 Agustus 2026, penyaluran beras SPHP telah mencapai 17.621.980 kilogram melalui 1.529 mitra yang terdiri atas 678 Rumah Pangan Kita (RPK), 494 pengecer pasar rakyat, 77 instansi pelaksana Gerakan Pangan Murah (GPM), serta berbagai saluran distribusi lainnya. Jaringan tersebut menjadi instrumen pemerintah dalam menjaga ketersediaan dan keterjangkauan beras di berbagai daerah.

Sebagai informasi, dalam sesi dialog di Undip Semarang, mahasiswa asal Alor, Adriano menjelaskan bahwa kebutuhan beras di daerahnya mencapai sekitar 24 sampai 27 ribu ton per tahun. Sementara produksi lokal baru mampu memenuhi sekitar 10 persen kebutuhan masyarakat.

“Nah masalahnya Pak, kebutuhan beras kami itu sekitar 24-27 per tahun, sedangkan kemampuan kami cuma bisa 10 persen, sehingga harga beras sering naik dan mahal, Pak,” ungkap dia.

Menurut Adriano, tingginya biaya distribusi menyebabkan harga beras di Alor jauh lebih tinggi dibandingkan daerah lain. Di wilayah perkotaan harga beras berkisar Rp 13.000 hingga Rp 15.000 per kg. 

Namun di wilayah pedalaman, harga dapat mencapai Rp 17.000 hingga Rp 18.000 per kg. Bahkan ketika musim hujan menghambat distribusi antarpulau, harga beras bisa melonjak hingga Rp 25.000 sampai Rp 30.000 per kg.

“Kalau di wilayah perkotaan harganya sekitar Rp 13 ribu sampai Rp 15 ribu per kilogram. Tapi di pedalaman bisa Rp 17 ribu sampai Rp 18 ribu. Saat terjadi hujan, jadi susah kirim beras. harganya bisa mencapai Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu per kilogram,” tambah Adriano.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini