Barantin Siap Terapkan Biosecurity Setara Negara Maju

0
Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Sahat Manaor Panggabean menyampaikan pentingnya biosecurity saat Coffee Morning di Gedung 600 Kantor Pusat AP II Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Kamis 14 Agustus 2025. Dok: Barantin

Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Sahat Manaor Panggabean menegaskan, Indonesia siap menerapkan standar biosecurity setara negara maju melalui peluncuran sistem All Indonesia.

Sistem ini akan diresmikan Presiden Prabowo Subianto sebagai layanan deklarasi atau pelaporan barang bawaan secara digital dan terintegrasi, yang berlaku di seluruh bandara internasional.

Menurut Sahat, keberhasilan Indonesia menuju negara maju memerlukan sinergi pemerintah dan pelaku usaha.

“Pelaku usaha harus bisa memahami, Indonesia ini bisa maju ketika pemerintah sama pelaku usaha itu sama-sama. Artinya pemerintah bikin regulasi, bikin aturan, bikin kebijakan tentunya itu untuk kebaikan bersama Para pelaku usaha juga paham tujuannya para pelaku usaha juga paham tujuannya,” ujarnya saat Coffee Morning di Gedung 600 Kantor Pusat AP II Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Kamis 14 Agustus 2025.

Sahat menegaskan pentingnya penguatan biosecurity untuk melindungi negara dari ancaman hama dan penyakit. Ia mencontohkan, di negara maju seperti Australia, membawa satu buah pisang saja, meski berasal dari hidangan di pesawat, dapat berujung denda 400 dolar Australia.

“Kita sedang menuju ke arah sana Itu dia. Maka nanti All Indonesia yang akan di launching, di resmi oleh Pak Presiden Itu menunjukkan bahwa Indonesia levelnya ke sana,” ungkap Prabowo. 

Ia menegaskan, pemerintah tidak melarang pihak mana pun masuk ke Indonesia, namun semua pihak wajib mematuhi persyaratan yang berlaku. Sebab, jika tidak, dampaknya dapat mengancam keamanan hayati, merugikan petani, dan mengganggu perdagangan komoditas di pasar internasional.

“Teman-teman pelaku usaha, mari kita bersama-sama membangun Indonesia. Tapi jangan biarkan komoditas yang membawa penyakit masuk ke wilayah kita,” ujarnya.

Sahat mencontohkan, beberapa tahun lalu terjadi wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang umumnya berasal dari Jawa Timur. Akibatnya, kerugian masyarakat hampir mencapai Rp40 triliun karena banyak sapi mati.

Itu terjadi karena kita tidak hati-hati saat meloloskan barang yang membawa penyakit,” jelasnya.

Tahun lalu, lanjutnya, di Papua juga ditemukan kasus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika. Berdasarkan pemetaan, kemungkinan besar penyakit ini masuk melalui alat angkut udara, berawal dari Timika lalu menyebar ke seluruh Papua.

“Di Papua tidak ada transportasi darat, laut pun sulit. Jadi yang memungkinkan adalah lewat udara,” ujarnya.

Sahat mengingatkan, tanpa kehati-hatian, justru manusia yang membantu penyebaran penyakit tersebut, dan kerugian yang timbul bisa mencapai triliunan rupiah. Hal ini berlaku juga untuk barang kargo.

“Pelaku usaha yang bergerak di bidang kargo harus memastikan barang yang diangkut memang diizinkan untuk dilintaskan,” katanya.

Menurutnya, pemerintah memiliki peta wilayah bebas penyakit. Misalnya, Nusa Tenggara Timur (NTT) bebas PMK dan berbagai penyakit lainnya. Karena itu, barang yang berpotensi membawa penyakit tidak boleh masuk ke NTT.

“Nah, ini teman-teman Para pelaku usaha tolong juga membantu kami jangan menjadi media penyebar penyakit,” ungkap Sahat.

Sahat menjelaskan, karantina hadir di seluruh wilayah Indonesia dan siap membantu pelaku usaha memahami aturan tersebut.

“Mungkin Bapak-Ibu tidak sadar, apalagi teman-teman pelaku usaha. Ketika kalian izinkan barang dibawa ke daerah yang bebas penyakit, itu sama saja kita menyebarkan penyakit,” ujarnya.

Ia menegaskan, penguatan biosecurity tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah atau karantina saja, melainkan harus menjadi tanggung jawab bersama.

“Kita sudah 80 tahun merdeka, saatnya kita bersatu, berdaulat, minimal kita kompak untuk mengimplementasikan All Indonesia dalam konteks biosecurity,” katanya.

Sahat optimistis, langkah ini akan menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia berubah, menuju arah yang lebih baik, dan setara dengan negara-negara maju. “Kita ini negara hebat. Sepanjang kita bersatu, kita bisa,” ujarnya.

Ia pun meminta pelaku usaha memahami, jika ada barang yang dimusnahkan oleh karantina, tujuannya bukan untuk menghambat, melainkan mencegah penyebaran penyakit.

“Kalau penyakit menyebar, masyarakat kita yang rugi. Negara tetangga justru senang, karena kita dianggap lemah. Jangan sampai itu terjadi. Kita harus hebat, berdaulat, dan kompak,” tegasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini