Per Februari 2019, Sektor Pertanian Menyumbang 13,57 Persen dari Total PDB

0
contoh produk perkebunan

JAKARTA – Deputi Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian Musdalifah Machmud mengungkapkan dalam beberapa tahun terakhir  sektor pertanian menjadi kontributor terbesar kedua terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) setelah industri pengolahan.

Per Februari 2019 sektor pertanian menyumbang 13,57 persen dari total PDB (Produk Domestik Bruto). Posisinya berada tepat setelah industri pengolahan yang menyumbang sekitar 19,52 persen terhadap PDB.

Musdalifah meyakini peningkatan kontribusi sektor pertanian ini bisa mengerek angka pertumbuhan ekonomi.

“Pemerintah ingin sektor pertanian berkontribusi lebih besar ke pertumbuhan ekonomi,” ujarnya pada Selasa (5/11).

Tercatat saat ini, pencapaian dari sektor pertanian memberikan kontribusi 1 persen kepada pertumbuhan ekonomi. Pemerintah menargetkan kontribusi sektor pertanian kepada pertumbuhan ekonomi meningkat sebesar 1 persen-1,5 persen.

“Jadi beda tipis, kalau dinaikkan 1 persen-1,5 persen (kontribusi ke pertumbuhan ekonomi) pertanian akan menjadi kontributor terbesar apalagi didukung dengan teknologi,” katanya.

Menteri Riset dan Teknologi sekaligus Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, pemerintah akan terus mendorong produktivitas petani melalui industrialisasi sektor pertanian. Ini sejalan dengan visi misi Presiden Joko Widodo (Jokowi) yaitu transformasi ekonomi berbasis Sumber Daya Alam (SDA) menjadi manufaktur.

Kalau begitu maka petani juga harus meningkatkan produksinya sehingga bisa menjadi input kepada manufaktur. Jangan sampai kami kembangkan industri pertanian tapi inputnya impor,” ucapnya.

Ia menuturkan pihaknya akan mempertemukan dunia usaha dengan kalangan peneliti sehingga inovasi teknologi sektor pertanian sesuai dengan kebutuhan pasar. Ia menilai inovasi teknologi yang diciptakan oleh peneliti belum sesuai dengan kebutuhan pasar sehingga sulit dikembangkan.

“Selama ini inovasi selalu missing karena mereka (peneliti) belum perhitungkan biaya, apakah prototype penelitian lebih murah dan efisien dibandingkan produk impor,” katanya.

Selain itu, pemerintah akan mendorong produktivitas petani dengan memperluas model inti plasma.

Ia mengharapkan agar model plasma yang baru dikembangkan pada komoditas sawit dan kakao itu bisa direplikasikan dengan komoditas lain, termasuk komoditas pangan dan hortikultura

“Konsep inti plasma ini nanti akan ada kerja sama kemitraan antara perkebunan besar sebagai inti dan perkebunan rakyat di sekitarnya sebagai plasma,” ujarnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini