Perum Bulog Klaim Sudah Serap 150 Ribu Ton Hasil Panen Petani

0
Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog, Bayu Krisnamurthi pada Konferensi Pers Keberhasilan Bantuan Pangan Beras Menahan Laju Inflasi di Gedung Bulug Pusat di Jakarta, Kamis (12/1).

Direktur Utama Perum Bulog, Bayu Krisnamurthi mengatakan, pihaknya telah menyerap lebih dari 150 ribu ton hasil produksi petani dalam negeri sejak awal panen hingga saat ini.

“Menyikapi gejolak harga gabah dan beras di tingkat petani yang terjadi seiring dengan datangnya masa panen raya, Bulog telah menyerap lebih dari 150 ribu ton hasil panen dari para petani dalam negeri,” kata Bayu dalam keterangan tertulisnya, Kamis (25/4).

Bayu mengatakan, untuk mencapai sasaran pengadaan tahun ini Bulog akan menggandeng para pengusaha penggilingan yang memiliki silo untuk dapat membuka gudang pasokan untuk gabah.

“Bulog akan melakukan semua cara untuk bisa melakukan pengadaan dalam negeri, seperti akan dibuka gudang untuk pasokan gabah bekerja sama dengan penggilingan yang memiliki silo,” kata Bayu.

Pihaknya juga, sambung dia, akan mengembangkan program jemput gabah dan beras langsung ke para petani. Termasuk juga pengadaan melalui jalur komersial dengan harga beras lebih fleksibel.

“Kita lakukan semua cara untuk penyerapan dalam negeri ini juga sebagai upaya menekan impor,” ujar mantan Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu.

Menurut Bayu, Sumatera Selatan merupakan salah satu derah penyumbanga stok beras terbanyak untuk Bulog, sehingga pihaknya mengoptimalkan penyerapan beras dari Bumi Sriwijaya tersebut.

“Kami akan mengoptimalkan penyerapan beras di Sumatera Selatan dengan cara berdiskusi bersama mitra dan perusahaan penggilingan supaya memaksimalkan pengadaan beras,” ucap Bayu.

Di samping itu, Bayu juga menyebutkan terdapat beberapa tantangan dalam penyerapan beras saat ini, di antaranya persoalan kualitas beras yang dipengaruhi oleh penggunaan pupuk pada saat masa tanam.

“Masih ada beras yang rusak dan pecah lebih dari ketentuan 20 persen. Jika ada 30 persen-35 persen masih akan tetap kita serap, tapi yang tidak bisa kita langgar yakni kadar air beras yang maksimal harus 14 persen,” sambung dia.

Karena itu, Bayu menegaskan, kendala dalam penyerapan beras oleh Bulog itu bukan disebabkan harga pembelian pemerintah (HPP) yang rendah, akan tetapi kualitas beras yang kurang baik.

“Sebenarnya untuk harga HPP gabah dan beras itu telah difleksibilitas mulai dari Rp 5.000 menjadi Rp 6.000 per kg untuk GKP di petani dan Rp 9.950 menjadi Rp 11.000 per kg untuk beras beras CBP medium di gudang Bulog. Akan tetapi, kendalanya itu memang dari kualitas gabah/beras yang kurang bagus dan memenuhi ketentuan dari Bulog, sehingga kami tidak dapat melakukan penyerapan,” kata dia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini