PPKS Sukses Uji Coba B50 Rute Medan-Jakarta

0
program biodiesel indonesia

Sukses yang diraih Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) ini merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan penggunaan biodiesel untuk kendaraan dalam negeri. Dengan keberhasilan ini, penggunaan B50 untuk kendaraan tampaknya sudah di depan mata.

Setelah sukses menyelenggarakan program biodiesel 20% atau B20, kini pemerintah bisa meningkatkan penggunaan biodiesel menuju biodiesel 50% atau B50. Upaya menuju B50 sepertinya tidak terlalu sulit, hal itu dibuktikan dengan uji coba yang dilakukan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) pada akhir Januari 2019 lalu.

Ketua Tim Road Test Biodiesel B50 PPKS, Muhammad Ansori Nasution mengatakan, pihaknya telah melakukan ujicoba penggunaan B50 dan B20 pada dua mobil bermesin diesel pada akhir bulan lalu. Kedua mobil ini memulai perjalanan dari Kota Medan, Sumatera Utara ke Jakarta.

“Setelah menerabas jalur lintas timur Sumatra selama tiga hari, mobil jenis dan merek yang sama tersebut tiba di ibukota tanpa ada hambatan apa pun, meski ini baru hasil riset sementara,” ungkap Ansori.

Peneliti Rekayasa Teknologi dan Pengelolaan LIngkungan PPKS ini melanjutkan, penggunaan B50 dan B20 dalam uji coba tersebut menunjukkan kalau bahan bakar dan emisi gas buang keduanya berbeda. Selain itu, hasil dyno test menunjukkan bahwa power mobil yang menggunakan B50, 4% lebih rendah daripada mobil yang menggunakan B20.

Road Test B50 menggunakan dua kendaraan uji merek Toyota Innova diesel keluaran tahun 2018. Mobil kontrol menggunakan bahan bakar diesel komersial yang diperoleh dari SPBU Pertamina, odometer sebelum pengujian menunjukkan angka 3.855 km.

Sementara itu, mobil uji menggunakan bahan bakar dengan komposisi bauran biodiesel sejumlah 50% (B50), odometer sebelum pengujian menunjukkan angka 74 km. Sebelum road test dimulai, kedua mobil diperlakukan sama.

Untuk menghindari bias terkait dengan gaya mengemudi, dalam ujicoba ini pengemudi pada kendaraan pertama dan kedua saling bertukar posisi kemudi setiap 500 km. “Berdasarkan pengakuan kedua driver, mobil yang menggunakan B50 lebih responsif. Tapi pengakuan ini tidak terukur,” kata Ansori.

Berdasarkan konsumsi bahan bakar, mobil uji yang menggunakan B50 sedikit lebih boros jika dibandingkan mobil kontrol yang menggunakan B20. Jika mobil kontrol dalam satu liter bahan bakar bisa menempuh perjalanan sejauh 10,86 km, mobil uji hanya 10,61 km. “Namun dari rata-rata emisi gas buang mobil uji lebih ramah lingkungan ketimbang mobil kontrol,” tegas Ansori.

Direktur PPKS Hasril Hasan Siregar mengatakan bahwa salah satu produk hilir dari minyak sawit yang dapat dikembangkan di Indonesia adalah biodiesel yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif, terutama untuk mesin diesel.

“Biodiesel ialah bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, tidak beracun dan dibuat dari minyak nabati,” tegas Hasril.

Selain itu, PPKS juga melakukan pengujian terhadap bahan bakar biodiesel CPO (crude palm oil) B50 terhadap kendaraan bergerak (mobil) di dataran tinggi dengan ketinggian berkisar 1.500 meter di atas permukaan laut (m dpl).

Dari ujicoba itu, kata Hasril yang didampingi Ketua Tim Peneliti B50 PPKS Ansori, ternyata tidak ada masalah. B50 yang dicampur dengan bahan bakar (fuel fosil) tidak mengalami pembekuan.

Ansori menambahkan, ujicoba dilakukan pada tanggal 21 Februari 2019 lalu di Taman Simalem, Kabupaten Karo dengan ketinggian mencapai 1.500 m dpl.

“Kami sampai di Simalem sekitar pukul 17.00 WIB. Sekitar pukul 22.00 WIB dengan temperatur Simalem berkisar 19° Celcius mesin kami hidupkan. Ternyata tidak ada masalah. Kemudian, pukul 04.00 – 05.00 WIB dengan suhu 17° Celsius mesin kami hidupkan lagi, ternyata hidup dan tidak ada masalah,” jelas Ansori.

Penggunaan biodiesel sawit hingga campuran 50% atau B50 untuk mesin bergerak seperti mobil dari hasil penelitian yang dilakukan PPKS tidak ada masalah sama sekali.

Namun, untuk penggunaan B50 sampai B100, baru dapat digunakan untuk mesin tidak bergerak atau stationer, seperti mesin diesel pembangkit listrik dan sebagainya.

Jadi, intinya, dari hipotesis yang sedang dan perlu diuji oleh Tim PPKS adalah sampai dengan B50 sawit untuk kondisi mesin bergerak (mobil) yang menggunakan BBM fosil tidak perlu ada perubahan.

“Sebenarnya PPKS juga sudah membuat B100 dari minyak sawit dengan kemurnian lebih dari 96,5 persen. Tetapi, penggunaannya baru dilakukan dengan pencampuran 50 persen,” jelasnya.

Mengenai kendala atau kelemahan dari penggunaan bahan bakar biodiesel sawit, menurut Ansori, tidak ada masalah sama sekali.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Mukti Sardjono menambahkan bahwa pihaknya mengapreasiasi ujicoba yang dilakukan PPKS ini.
Menurutnya, dengan semakin tingginya harga minyak bumi akhir-akhir ini, sudah saatnya apabila Indonesia lebih meningkatkan penggunaan biodiesel khususnya berasal kelapa sawit, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor.

“Penggunaan biodiesel untuk kendaraan bermotor di dalam negeri berfungsi ganda yaitu diversifikasi produk hilir kelapa sawit dan penyediaan energi ramah lingkungan. Di samping itu sekaligus dapat menghemat devisa impor minyak fosil”, kata Mukti. ***SH, TOS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini