Revitalisasi Pabrik Gula Menjadi Sebuah Keharusan

0

Revitalisasi pabrik gula (PG) dianggap sebagai solusi jitu untuk menjawab masalah kebutuhan gula di Indonesia. Langkah ini dinilai efisien, di samping rencana pemerintah untuk memperluas area tebu di luar Pulau Jawa.

Peneliti Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian, Agus Pakpahan mengungkapkan, revitalisasi pabrik yang dijalankan dengan tepat dapat memberikan hasil yang efisien, produktif, sekaligus menunjukkan perkembangan.

Ia mencontohkan program pengembangan pada PT Kebon Agung (PPKA) yang mampu meningkatkan kapasitas giling dari 7.872,20 ton tebu/hari pada 2004 menjadi 9.605, 40 ton tebu/hari pada 2007 ketika PPKA tahap I berakhir. Kapasitas giling pun meningkat pada tahap kedua PPKA yang berakhir pada 2012. Saat itu, PT Kebon Agung bisa melakukan penggilingan sampai 14.686 ton tebu/hari.

Peningkatan kapasitas giling ini berdampak pada produksi gula secara keseluruhan. Jika sepanjang 2004, PT Kebon Agung hanya memproduksi 92.100 ton gula, pada tahun 2012 produksi meningkat hampir dua kali lipat di angka 177.000 ton. Peningkatan ini turut dipengaruhi dengan perluasan area tanam dari 19.281 hektar pada 2004 menjadi 31.698 hektar pada 2012.

“Hasil PG Kebon Agungmemperlihatkan revitalisasi yang dijalankan dengan benar, hasilnya akan efisien, produktif, dan berkembang. Jika hal ini dilakukan pada 62 pabrik gula di Pulau Jawa, kita bisa lebih dari swasembada,”ungkap Agus di Jakarta. Ia merujuk pada target swasembada gula yang diharapkan dapat dicapai pada 2024.

Dorongan untuk mengedepankan revitalisasi pabrik gula pun disuarakan oleh Ketua Dewan Pimpinan Daerah Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPD APTRI) PG Kebon Agung, Dwi Irianto. Ia menyatakan peningkatan produksi hanya bisa dicapai jika rendemen mencapai 10 persen dengan produktivitas mencapai 1.000 kuintal/hektar.

“Produktivitas kita sekarang di kisaran 800 kuintal/hektar dan rendemennya sekitar 7,5 persen. Kita mampu bersaing dan menambah produktivitas gula jika produksi mencapai 1.000 kuintal/hektar dan rendemen 10 persen,” kata dia.

Dwi pun menjelaskan lewat peningkatan produktivitas tersebut, gula dalam negeri dapat dijual dengan harga pembelian pemerintah (HPP) di kisaran Rp6.000,00 sampai Rp7.000,00 per kg sehingga bisa bersaing dengan gula impor

Industri gula Tanah Air memang harus menghadapi target produksi 2,45 juta ton pada 2019 di tengah tren penurunan produksi dan penyusutan lahan dalam empat tahun terakhir.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, produksi gula nasional turun dari 2,57 juta ton pada 2014 menjadi 2,19 juta ton pada 2017. Padahal pada tahun tersebut, kebutuhan gula rumah tangga mencapai 2,8 juta ton. Penurunan produksi diikuti pula dengan penyusutan luas area tebu dari 472.676 hektar pada 2014 menjadi 420.146 juta hektar pada 2017.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania mengatakan, revitalisasi pabrik gula di Indonesia harus didukung adanya inovasi dalam teknologi. Galuh menyarankan, pmerintah perlu membangun dan mengembangkan ekosistem riset yang mendukung terciptanya inovasi teknologi. Inovasi ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pabrik gula dalam menghasilkan gula yang berkualitas.

Untuk itu, lanjutnya, pemerintah dapat melibatkan universitas dalam mengembangkan ekosistem riset dan menghubungkannya dengan perkebunan tebu dan juga produsen gula rafinasi. Tujuan kerjasama ini adalah agar mereka dapat membantu memperbaiki kualitas sehingga nantinya gula lokal dapat bersaing secara harga dan kualitas dengan gula impor dan aturan kuota impor gula dapat dihapuskan.

“Selama ini impor gula secara dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang tidak bisa dicukupi oleh petani tebu dan industri gula dalam negeri. Selain itu, impor gula juga dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan kualitas gula. Saat ini, kualitas gula di Indonesia belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan industri pengguna gula, seperti industri makanan dan minuman,” jelas Galuh. *** SH, AP, NM, TOS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini