Strategi Pupuk Indonesia Pastikan Ketersediaan Pupuk Nasional

0
Pemerintah pastikan ketersediaan pupuk. (Foto: Pupuk Indonesia)

Pupuk Indonesia (Persero) memastikan ketersediaan pupuk dalam kondisi aman untuk mendukung sektor pertanian secara umum dan komoditas perkebunan seperti sawit, kelapa dan kakao.

Pernyataan ini disampaikan VP Riset Pasar Pupuk Indonesia, Bayu Kristianto, dalam acara Evaluasi Tahunan Ilmiah Kinerja Agribisnis dan Perkebunan (ETIKAP) ke-6 yang digelar di Jakarta, Rabu (11/6).

Bayu mengatakan, untuk pupuk jenis Urea, Pupuk Indonesia memiliki kapasitas terpasang sebesar 9,4 juta ton per tahun. Dengan kebutuhan Urea untuk program subsidi tahun ini yang ditetapkan sekitar 4,6 juta ton, kapasitas produksi yang tersedia masih jauh mencukupi.

“Alokasi untuk pemenuhan kebutuhan pupuk bersubsidi sesuai penugasan Kementerian Pertanian, untuk Urea itu 4,6 juta ton. Jadi, masih terdapat sisa untuk pasar nonsubsidi,” kata Bayu.

Dia menambahkan, untuk kebutuhan pasar nonsubsidi dalam negeri, rata-rata setiap tahun, baik untuk pasar ritel, pasar korporasi, maupun industri yang membutuhkan Urea sebagai bahan baku, seperti industri NPK, mencapai sekitar 2 juta ton.

“Sehingga, dari 9 juta ton kapasitas produksi Pupuk Indonesia untuk Urea, itu penggunaan di dalam negeri itu hanya sekitar 6,6 juta ton per tahun,” jelas dia.

Ke depan, Pupuk Indonesia berencana mengembangkan pabrik untuk meningkatkan kapasitas produksinya.

Pupuk Indonesia juga akan melakukan revitalisasi pabrik-pabrik yang sudah tua. Pasalnya, sekitar 50 persen pabrik saat ini telah berusia tua, sehingga efisiensi penggunaan gas sebagai bahan baku menjadi kurang optimal.

Dengan revitalisasi dan investasi tersebut, sambung Bayu, diharapkan selain kapasitas produksi bertambah, efisiensi juga meningkat sehingga daya saing bisa lebih baik. “Semoga pada akhirnya, pekebun dan pelaku usaha industri perkebunan kelapa sawit, kakao, atau kopi dapat memperoleh produk pupuk yang lebih kompetitif,” ujar Bayu.

Kemudian, produksi NPK Pupuk Indonesia memiliki kapasitas 4,6 juta ton. Angka ini masih kurang dibandingkan dengan kebutuhan nasional yang diperkirakan sekitar 8,5 hingga 9 juta ton per tahun, sehingga industri NPK di Indonesia cukup berkembang.

Dari kapasitas produksi 4,6 juta ton, Pupuk Indonesia mendapatkan penugasan dari pemerintah untuk program subsidi sebesar 4,4 juta ton. Jumlah tersebut sudah mencakup NKP khusus untuk tanaman kakao sekitar 140 ribu ton, serta kopi dengan produk NPK formula 15, 10, dan 12.

“Sehingga sebetulnya kami masih ada kapasitas sekitar 0,4 juta ton per tahun yang dapat digunakan untuk industri perkebunan komersil ya di luar subsidi,” ujar Bayu.

Selain produk pupuk utama, Pupuk Indonesia juga menyediakan produk lain seperti ZA, SP36, dan ZK, yang digunakan secara spesifik untuk kebutuhan khusus di perkebunan atau pertanian secara umum.

Pertumbuhan kebutuhan pupuk sektor perkebunan sawit di Indonesia cukup signifikan. Oleh karena itu, upaya dilakukan untuk menangkap peluang pasar tersebut dengan merencanakan pembangunan pabrik-pabrik NPK baru.

Selain itu, yang juga sudah diinisiasi dalam dua tahun terakhir, namun belum berhasil, adalah upaya mengakuisisi tambang fosfat atau kalium di luar negeri.

“Sehingga kita bisa punya feedstock security,  punya keamanan pasokan bahan bakunya, sehingga tidak terdampak terhadap fluktuasi kondisi geopolitik,” pungkas Bayu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini