Uji NADI, DSI Bangun Ekosistem Ekspor Komoditas Strategis yang Lebih Transparan

0

 JAKARTA — Tata kelola ekspor komoditas strategis Indonesia memasuki fase baru. PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) atau DSI mulai menguji platform digital National Data Intelligence (NADI), yang dirancang untuk memperkuat transparansi data, koordinasi, dan visibilitas perdagangan komoditas strategis Indonesia.

Pilot platform tersebut digelar pada 1 Oktober 2026 dengan melibatkan pemerintah dan enam asosiasi industri. Mereka adalah Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI-ICMA), Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), dan Indonesian Mining Association (IMA).

Sejumlah kementerian dan lembaga turut terlibat, antara lain Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Keuangan, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Lembaga National Single Window (LNSW), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, serta Bank Indonesia.

Pelibatan pemerintah dan industri sejak tahap awal menjadi bagian penting dari proses pengembangan NADI. DSI ingin memastikan sistem yang dibangun tidak hanya mampu mengolah data, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan operasional eksportir dan perkembangan regulasi perdagangan komoditas.

Direktur Keuangan dan Treasury DSI, Sinthya Roesly, mengatakan pilot tersebut merupakan langkah konkret untuk menguji sistem sekaligus membuka ruang bagi pemerintah dan pelaku usaha memberikan masukan sebelum platform diterapkan secara bertahap kepada eksportir.

“Sebagai satu kesatuan yang kuat dalam meraih cita-cita bersama, ekosistem yang ingin kita ciptakan harus dibangun bersama-sama, baik dengan pemerintah maupun para pelaku industri,” kata Sinthya.

Menurut dia, transparansi dan visibilitas menjadi salah satu prioritas dalam pembangunan ekosistem ekspor tersebut. Namun, penguatan tata kelola tetap harus berjalan beriringan dengan kelancaran kegiatan ekspor.

“Prioritas kami adalah meningkatkan transparansi dan visibilitas, sekaligus memastikan kegiatan ekspor tetap berjalan lancar. Melalui pilot ini, kami dapat mendengar masukan, menguji proses bersama, dan terus menyempurnakan sistem yang dibangun,” ujarnya.

NADI pada akhirnya diharapkan dapat membangun ekosistem ekspor yang lebih transparan, terkoordinasi, dan memberikan kepercayaan lebih besar kepada pelaku usaha maupun pasar global terhadap komoditas strategis Indonesia.

Menyesuaikan Regulasi

Pengembangan platform berlangsung di tengah perubahan mandat dan regulasi yang berkaitan dengan tata kelola komoditas strategis. Karena itu, pemerintah dan DSI masih melakukan pembahasan agar implementasi platform ke depan tetap selaras dengan ketentuan yang berlaku dan diperbarui.

Bagi industri, aspek tersebut menjadi penting. Sistem tata kelola ekspor tidak hanya dituntut mampu meningkatkan transparansi, tetapi juga tidak boleh menciptakan hambatan baru bagi aktivitas perdagangan.

Karena itu, enam asosiasi industri dilibatkan sejak tahap pilot. Masukan dari asosiasi diharapkan membantu DSI menguji mekanisme, memperbaiki proses, sekaligus memastikan platform memiliki relevansi dengan kebutuhan dunia usaha.

Ketua Umum APBI-ICMA Priyadi menyambut positif inisiatif tersebut. Menurut dia, transparansi dan akuntabilitas merupakan bagian penting dalam upaya memperkuat ekspor Indonesia.

“Kami menyambut baik inisiatif ini karena tujuannya sejalan dengan upaya mendorong ekspor Indonesia. Transparansi dan akuntabilitas yang lebih baik menjadi hal penting yang kami harapkan dapat diwujudkan melalui inisiatif ini, sehingga dapat turut mendukung penguatan ekspor nasional,” ujarnya.

Perwakilan GIMNI Paulus Edwin Gunawan Sutanto menyoroti pentingnya tersedianya analisis dan acuan yang dapat digunakan bersama oleh pemerintah dan industri.

“Inisiatif ini sangat baik karena analisis seperti ini diperlukan untuk dapat menjadi acuan bersama. Dengan adanya metodologi dan acuan harga yang lebih terstruktur, kami berharap dapat bersama-sama melakukan perbaikan untuk Indonesia yang lebih baik,” kata Paulus.

Masukan tersebut akan menjadi bagian dari penyempurnaan NADI sebelum implementasi lebih luas. Dengan pendekatan tersebut, DSI tidak hanya mengembangkan platform berbasis teknologi, tetapi juga mencoba membangun mekanisme tata kelola yang mempertemukan kepentingan pemerintah dan pelaku usaha.

Perkuat Kapabilitas Komoditas

Di luar pengembangan platform, DSI juga memperkuat kapasitas internal melalui penambahan talenta yang memiliki pengalaman panjang di sektor komoditas dan perdagangan global.

Salah satunya adalah Daniel Lim, yang memiliki pengalaman selama 29 tahun di sektor komoditas kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia. Daniel kini bergabung sebagai Advisor untuk sektor agribisnis.

Pengalaman tersebut diharapkan memperkuat perspektif DSI dalam membaca dinamika perdagangan sawit, pasar global, dan rantai nilai komoditas.

Kehadiran Daniel sekaligus melengkapi pendekatan DSI yang memadukan teknologi, data, market intelligence, pengalaman industri, dan keahlian perdagangan.

Pilot NADI selanjutnya menjadi ruang untuk menguji proses sekaligus menyerap masukan dari pemerintah dan industri. Dari sana, mekanisme platform akan terus disempurnakan agar implementasinya dapat berjalan efektif dan tetap mengikuti perkembangan regulasi.

Bagi DSI, pembangunan ekosistem ekspor bukan semata persoalan membangun sebuah portal digital. Tantangannya adalah bagaimana data, teknologi, regulasi, dan pengalaman pelaku industri dapat bekerja dalam satu ekosistem yang mendukung transparansi sekaligus menjaga kelancaran perdagangan.

Dengan pendekatan tersebut, DSI menargetkan terbentuknya ekosistem ekspor komoditas strategis Indonesia yang lebih transparan, terintegrasi, terpercaya, dan kompetitif di pasar global.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini