Mentan Amran Respons Usulan DMO Kelapa

0
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman berkemeja putih.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman didampingi Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda berkunjung ke pabrik pengolahan kelapa PT NICO, Minggu, 27 Oktober 2025. Dok: Kementan

Menteri Pertanian/Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman merespons usulan penerapan kebijakan domestic market obligation (DMO) untuk komoditas kelapa.

DMO adalah kewajiban bagi produsen atau pelaku usaha untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri terlebih dahulu sebelum melakukan ekspor.

“Bagus juga idenya,” ujar Amran saat diminta menanggapi isu harga kelapa di dalam negeri, saat ditemui baru-baru ini di Kantor Bapanas.

Di sisi lain, Amran menyebut kondisi pasar global saat ini justru tengah menguntungkan Indonesia. Harga kelapa dunia mengalami kenaikan, sementara Indonesia merupakan produsen terbesar.

“Sekarang kita bersyukur karena harga kelapa dunia naik. Sedangkan kita produsen kelapa terbesar,”  ujar Amran.

Dia mengungkapkan, dampak kenaikan harga tersebut tercermin pada lonjakan nilai ekspor kelapa nasional yang mencapai 42 persen. Hingga akhir tahun, nilai ekspor diperkirakan tetap tumbuh di kisaran 33–35 persen.

“Tahu ekspor kita meningkat nilainya 42 persen.  Minimal di akhir tahun itu 33-35 persen. Itu sesuatu luar biasa pemerintahan Bapak Prabowo kita,” ujar dia.

Hasil survei yang dirilis Lembaga Survei KedaiKOPI pada Selasa, 17 Desember 2025 mengungkap adanya kekhawatiran masyarakat terhadap lonjakan harga kelapa dan produk olahannya.

Survei yang dilakukan secara tatap muka pada 24 November hingga 1 Desember 2025 kepada 400 responden di enam kota besar itu memotret persepsi publik terhadap kondisi kebutuhan kelapa di Indonesia.

Peneliti Lembaga Survei KedaiKOPI Ashma Nur Afifah menjelaskan, survei melibatkan tiga kelompok responden, yaitu 200 ibu rumah tangga, 160 pelaku UMKM, dan 40 penjual kelapa utuh.

Hasilnya, sebanyak 83 persen responden merasakan kenaikan harga kelapa dan produk olahannya dalam enam bulan terakhir.

“Bahkan, dari masyarakat yang mengalami kenaikan harga kelapa itu, 45,2 persen di antaranya menilai kenaikan tersebut signifikan,” kata Ashma.

Ashma menjelaskan, kenaikan harga ini dipicu oleh lonjakan ekspor kelapa utuh besar-besaran. Mayoritas responden, jelasnya, menyadari bahwa permintaan ekspor tinggi menjadi salah satu penyebab utama pasokan domestik berkurang dan harga melonjak.

“Indonesia sebagai salah satu produsen kelapa terbesar di dunia, dengan produksi sekitar 2,8 juta ton per tahun, dan satu-satunya negara yang masih memperbolehkan ekspor kelapa bulat tanpa pembatasan ketat membuat pasokan dalam negeri rentan terganggu,” kata Ashma.

Survei menunjukkan, dampak kenaikan harga sudah dirasakan luas. Bagi ibu rumah tangga, pengeluaran untuk makanan meningkat dan banyak yang terpaksa mengurangi penggunaan santan atau frekuensi memasak masakan bersantan.

“Apalagi, pelaku UMKM melaporkan kenaikan biaya modal double dan operasional yang signifikan, bahkan memaksa sebagian menaikkan harga jual menu hingga 50 persen pada usaha catering. Penjual kelapa utuh juga mengalami penurunan laba meski sebagian besar sudah menaikkan harga jual,” kata Ashma.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini