
Warga Desa Pedero, Kecamatan Hawu Mehara, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur mulai merasakan dampak nyata program mulai merasakan dampak program pembuatan lubang resapan, sumur resapan, jebakan air, serta konservasi hutan yang dijalankan Circle of Imagine Society (CIS) Timor sejak 2023.
Salah satu warga Desa Pedero, Mahari, mengatakan program pendampingan tersebut membantu masyarakat menghadapi krisis air yang selama ini menjadi persoalan utama di wilayahnya.
“Desa kami mayoritas kering. Kalau sudah bulan-bulan begini biasanya sumur-sumur sudah kering. Tapi setelah ada lubang resapan, sumur resapan, dan jebakan air, sekarang air bisa bertahan sampai Agustus bahkan September,” kata Mahari ditemui di Festival Raksha Loka Fest 2026, “Jaga Alam Jaga Hidup” di Jakart, Jumat (22/5).
Menurut dia, program CIS Timor tidak hanya membangun sarana konservasi air, tetapi juga mengedukasi masyarakat agar menghentikan kebiasaan menebang hutan secara sembarangan.
Mahari mengaku kawasan hutan di Desa Pedarro sebelumnya nyaris rusak akibat aktivitas manusia. Namun perlahan kesadaran warga mulai berubah setelah adanya pendampingan konservasi.
“Pola-pola lama yang menebang hutan sembarangan sekarang sudah mulai dikurangi,” ujarnya.
Dampak program tersebut juga dirasakan langsung dari sisi ekonomi masyarakat. Warga kini bisa mengurangi biaya pembelian air bersih yang sebelumnya cukup mahal.
Mahari mengatakan masyarakat Hawu Mehara selama ini harus membeli air dari ibu kota kabupaten dengan harga mencapai Rp 250 ribu per tangki. Bahkan pada periode 2000 hingga 2010-an harga air pernah menyentuh Rp 500 ribu per tangki.
“Sekarang pengeluaran warga untuk beli air bisa berkurang,” katanya.
Di Desa Pedarro sendiri terdapat sekitar 800 kepala keluarga dengan jumlah penduduk mencapai 3.000 jiwa. Mahari memperkirakan penerima manfaat program konservasi air tersebut mendekati seribu keluarga.
Sementara biaya pembuatan lubang resapan relatif murah, berkisar Rp250 ribu hingga Rp500 ribu tergantung kondisi lahan dan kedalaman.
Mahari berharap ke depan semakin banyak pihak yang memberikan perhatian terhadap kondisi kekeringan di Sabu Raijua.
“Semoga ada para pihak yang mau melihat langsung kondisi Sabu supaya tahu kesulitan dan kebutuhan masyarakat di sini,” imbuhnya.





























