
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mendapat interupsi dari sejumlah mahasiswa saat memberikan kuliah umum di Universitas Sumatera Utara (USU), Rabu (15/7). Alih-alih menghindar, Mentan Amran membuka ruang dialog dan mempersilakan mahasiswa menyampaikan aspirasi serta pertanyaan secara terbuka.
Salah seorang mahasiswa, Andreas dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) USU, kemudian menyampaikan sejumlah catatan mengenai sektor pertanian. Ia menyoroti ketergantungan impor pada beberapa komoditas, harga pangan yang dinilai belum berpihak kepada petani maupun konsumen, serta tantangan regenerasi petani dan degradasi lahan pertanian.
“Kalau pemerintah menyatakan produksi surplus, mengapa rantai distribusi dan tingginya biaya logistik masih membuat petani menerima harga rendah saat panen, sementara masyarakat di perkotaan tetap membeli pangan dengan harga mahal?” tanya Andreas.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Mentan Amran terlebih dahulu mengapresiasi keberanian mahasiswa menyampaikan pendapat. Menurutnya, kampus merupakan ruang yang tepat untuk berdiskusi, bertukar gagasan, sekaligus menguji kebijakan pemerintah dengan argumentasi dan data.
“Ini hebat. Berani saja sudah cukup. Kami memahami karena kami juga pernah muda. Yang penting keberanian itu diarahkan pada hal yang benar dan niatnya baik. Saya yakin niatmu ingin memajukan negara,” ujar Mentan Amran.
Ia menegaskan pemerintah tidak anti terhadap kritik. Sebaliknya, kritik yang disampaikan secara konstruktif menjadi bagian penting dalam mengawal pembangunan.
“Memang tugas mahasiswa mengkritik. Yang penting konstruktif. Kita harus mendengarkan aspirasi. Tetapi mari kita berdiskusi dengan data supaya informasi yang disampaikan kepada publik benar dan bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Selanjutnya, Mentan Amran menjelaskan, pemerintah tidak menutup mata terhadap berbagai persoalan yang disampaikan mahasiswa. Ia mengakui masih ada komoditas yang bergantung pada impor, seperti bawang putih. Namun, secara keseluruhan Indonesia telah berhasil meningkatkan kemandirian pangan secara signifikan.
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), Mentan Amran menyebut Nilai Tukar Petani (NTP) saat ini berada pada level tertinggi dalam 34 tahun terakhir, mencapai127,73. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian juga menjadi yang tertinggi dalam sekitar 25 tahun terakhir sebesar 5,74 persen.
Ia juga menjelaskan bahwa dari sebelas komoditas pangan strategis yang menjadi prioritas pemerintah, sebagian besar telah mampu dipenuhi dari produksi dalam negeri, bahkan beberapa telah menjadi komoditas ekspor. Sementara komoditas yang masih bergantung pada impor terus didorong agar dapat diproduksi di dalam negeri.
Saat menjawab pertanyaan mengenai tingginya harga pangan di tengah peningkatan produksi, Mentan Amran menegaskan persoalan tersebut tidak lepas dari praktik mafia dalam rantai distribusi pangan.
“Kalau produksinya banyak tetapi harga tetap tinggi, berarti ada persoalan dalam tata niaga. Mafianya harus kita berantas bersama. Siapa pun yang bermain kami tindak. Sudah puluhan tersangka kami proses, ribuan pelanggaran distribusi pupuk kami cabut izinnya. Kalau ada mafia, kita lawan bersama,” tegasnya.
Menurut Mentan Amran, mahasiswa dan pemerintah sejatinya memiliki tujuan yang sama, yakni membangun sektor pertanian yang lebih baik.
“Kalau kritik itu untuk memperbaiki bangsa, berarti kita sejalan. Bawang putih memang masih impor, itu kami akui dan sedang kami benahi. Kritik seperti ini penting, tetapi mari kita sama-sama menggunakan data agar solusi yang dibangun benar-benar tepat,” ujarnya.
Dialog kemudian berlanjut membahas berbagai isu lain, termasuk bantuan alat dan mesin pertanian, pemerataan pembangunan, hingga perubahan iklim. Seluruh pertanyaan dijawab secara terbuka oleh Mentan Amran hingga diskusi berlangsung hangat dan saling menghormati.
Menutup dialog, Mentan Amran kembali menegaskan bahwa pemerintah selalu membuka ruang bagi kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab.
“Kita tidak sempurna. Kritik itu menyempurnakan pembangunan. Yang penting, mari kita berdiskusi dengan data dan niat yang sama, yaitu memajukan bangsa dan menyejahterakan rakyat,” ucapnya.
Menanggapi penjelasan Mentan Amran, Andreas menyampaikan ucapan apresiasi atas hadirnya sosok pemimpin yang mau mendengarkan aspirasi masyarakat. “Terima kasih Pak Menteri sudah menerima aspirasi mahasiswa. Hidup mahasiswa!” pungkas Andreas.





























