Pembaca sekalian,
Industri kelapa sawit nasional sejatinya sedang menghadapi tantangan besar di tengah meningkatnya kebutuhan dalam negeri, ancaman penurunan produksi, serta persaingan pasar global. Karena itulah, percepatan peremajaan sawit rakyat (PSR), peningkatan produktivitas, penguatan tata kelola, dan hilirisasi menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan industri strategis tersebut ke depan.
Dalam pandangan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Eddy Martono, Indonesia tidak hanya menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia, tetapi juga konsumen utama komoditas tersebut. Karena itu, keberlangsungan industri sawit perlu dijaga melalui kebijakan yang mampu menyeimbangkan kebutuhan dalam negeri dan ekspor.
Dia juga menekankan, sekitar 16 juta orang bekerja di industri kelapa sawit. Sektor ini juga memberikan kontribusi besar terhadap devisa negara sehingga berbagai persoalan yang dihadapi perlu diselesaikan melalui kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, petani, dan pemangku kepentingan lainnya.
“Jangan sampai kebijakan yang dibuat justru membahayakan industri sawit kita. Kita harus bersama-sama memperbaiki berbagai persoalan yang ada dan memberikan masukan kepada pemerintah,” katanya dalam Indonesian Palm Oil Stakeholder Forum (IPOS Forum) ke-11 bertema “Ke Mana Arah Transformasi Industri Sawit Nasional” di Medan, Kamis, 29 Oktober 2026.
Pembaca majalah ini yang kami banggakan,
Hasil pembahasan yang mengemuka dalam Forum IPOS tersebut, kami jadikan tema utama dalam Rubrik Liputan Khusus Maja;ah HORTUS Edisi November 2026 ini.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian Eddy adalah percepatan peremajaan sawit rakyat. Dia menjelaskan, perkebunan sawit rakyat mencakup sekitar 41 persen dari total perkebunan sawit Indonesia. Namun, petani masih menghadapi kendala dalam mengakses program PSR, mulai dari persoalan legalitas lahan hingga proses administrasi dan birokrasi.
Menurutnya, kendala tersebut harus disederhanakan agar petani lebih mudah mengikuti program peremajaan. Eddy juga mendorong perusahaan anggota Gapki untuk memperkuat kemitraan dengan petani guna mempercepat program peremajaan kebun yang sudah tidak produktif lagi.
Sementara untuk Rubrik Laporan Utama, kami mengupas ihwal kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia, belum lama ini.
Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sejatinya hampir terjadi setiap tahun di beberapa wilayah di Indonesia. Hanya memang eskalasi dan luas areal kawasan hutan yang terbakar tidak sama dari tahun ke tahunnya.
Sebagai gambaran, luas area kebakaran hutan dan lahan sejak 2015 hingga 2026 di Indonesia dilaporkan mencapai 8,35 juta hektare. Data tersebut didapat dari SiPongi Kementerian Kehutanan (Kemenhut) hingga Oktober 2026.
Khusus untuk tahun ini total luas karhutla yang melanda Indonesia diprediksi mencapai ratusan ribu hektar, dengan lokasi kebakaran melanda beberapa pulau seperti Kalimantan, Sumatera, Nusa Tenggara Timur, Papua dan sebagian Pulau Jawa.
Pembaca sekalian yang kami hormati,
Seperti biasa di luar kedua rubrik andalan tersebut, kami juga telah menyiapkan berita atau tulisan yang tak kalah hangat dan atraktif di rubrik lainnya.
Akhirnya dari balik meja redaksi, kami ucapkan selamat menikmati sajian kami. ***





























