
Harga beras di tingkat distributor mulai mengalami penurunan dalam dua minggu terakhir. Beras medium yang sebelumnya berada di kisaran Rp 14.000 per kilogram turun menjadi sekitar Rp 13.500 per kilogram, sedangkan beras premium turun dari Rp 15.000 menjadi Rp 14.500 per kilogram.
Penurunan harga tersebut disampaikan distributor saat ditemui Direktur Utama Perum BULOG, Ahmad Rizal Ramdhani bersama Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto dalam kunjungan ke Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, Jumat (2/10).
Distributor tersebut menegaskan, harga yang disebut merupakan harga di tingkat distributor, bukan harga pengecer.
Rizal mengatakan penurunan harga mulai terlihat pada akhir September hingga awal Oktober 2026. Menurut dia, kondisi tersebut berbeda dengan evaluasi inflasi yang dilakukan pada periode sebelumnya.
“Jadi, kalau yang di bulan ini, alhamdulillah masuk di akhir September dan awal Oktober ini mengalami penurunan harga,” kata Rizal.
Dia berharap penurunan harga tersebut turut berdampak pada angka inflasi beras pada periode berikutnya. Sebelumnya, dalam evaluasi inflasi, beras tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,03 persen.
Rizal menjelaskan kenaikan tersebut terjadi ketika Indonesia memasuki musim paceklik atau periode ketika produksi beras tidak sedang berada pada masa panen. Meski demikian, pemerintah bersama BULOG dan pelaku usaha terus menjaga ketersediaan serta stabilisasi harga beras.
Saat ini, Rizal menyebut stok beras BULOG di gudang mencapai sekitar 4,8 juta ton. Dari stok tersebut, BULOG akan menyalurkan tambahan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebanyak 1 juta ton hingga Maret 2027.
Selain itu, sesuai arahan Presiden, BULOG juga akan menyalurkan bantuan pangan sebanyak 1 juta ton untuk periode Oktober, November, dan Desember 2026.
“Yang mana stok kami sekarang di gudang 4,8 juta ton tersebut, dari 4,8 juta ton tersebut akan disalurkan nanti beras SPHP tambahan sejumlah 1 juta ton sampai di Maret 2027. Kemudian untuk beras bantuan pangan sesuai dengan arahan Bapak Presiden juga akan disalurkan dari bulan Oktober, November, dan Desember sejumlah 1 juta ton,” ujarnya.
Menurut Rizal, penyaluran bantuan pangan juga berdampak terhadap harga beras di pasar. Distributor yang ditemui dalam kunjungan tersebut menyampaikan harga mulai turun setelah program bantuan pangan berjalan.
Di sisi pasokan, Rizal mengatakan beras di Pasar Cipinang tersedia dalam jumlah cukup. Hal itu terlihat saat Komisi IV DPR RI melakukan peninjauan langsung ke pasar tersebut untuk mengecek ketersediaan beras.
BULOG sendiri menyalurkan beras premium sekitar 600 ton per hari ke berbagai ritel di seluruh Indonesia. Rizal mengatakan BULOG juga menggandeng Perkumpulan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi) untuk mendorong penyaluran beras premium ke ritel modern.
“Jadi memang kalau berasnya Bulog tadi saya laporkan, untuk beras premium itu per hari kami sekitar 600 ton, itu yang kami salurkan ke seluruh ritel di tanah air,” katanya.
Dia berharap pengusaha beras di daerah ikut menambah pasokan ke ritel modern sehingga ketersediaan beras tidak hanya terjaga di pasar induk, tetapi juga lebih cepat sampai ke tingkat pengecer.
Sementara itu, memasuki musim paceklik, BULOG memastikan penyerapan gabah dari petani tetap berjalan normal. Rizal menyebut capaian penyerapan BULOG hingga 27–28 September 2026 telah mencapai sekitar 4 juta ton.
“Bulog tetap melakukan serapan seperti biasa. Agar apa? Agar masyarakat atau para petani yang sedang panen tetap hasil panennya diserap, dibeli oleh Bulog. Jadi tidak ada pengurangan sedikit pun,” ujarnya.
Dia menambahkan, langkah tersebut dilakukan agar petani tetap memperoleh manfaat dari hasil panennya, dengan harga gabah yang disebut sebesar Rp 6.500 per kilogram.





























