
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Ito Hediarto mengatakan tidak ada masalah dengan ketersediaan beras di pasaran. Menurut dia, persoalan yang muncul pada beras premium di ritel modern lebih berkaitan dengan pemerataan distribusi dari pusat distribusi atau distribution center (DC) ke jaringan ritel.
“Enggak ada masalah. Beras aman, medium aman, premium penyaluran distribusinya yang kita jaga ketat,” ujar Ito usai mendampingi Ketua Komisi IV dan Rombongan mengecek stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta Timur, Jumat (2/10).
Ito menjelaskan, beras premium dari Bulog telah sampai ke DC. Persoalannya, penyaluran dari DC ke masing-masing ritel belum selalu merata. Kondisi itu membuat ada ritel yang stoknya penuh, sementara ritel lain terlihat kekurangan.
“Karena kan ini kan informasinya kan dari ritel, dari ritel kok kurang. Tapi begitu ritel sebelah kok penuh,” katanya.
Menurut Ito, pemerintah kini mengawal distribusi dari DC agar pasokan beras premium dapat dibagikan secara lebih merata ke seluruh jaringan ritel. Hal itu dilakukan karena informasi kekurangan beras di ritel tidak menggambarkan kondisi seluruh jaringan.
Ito menyebut, berdasarkan pengecekan, ritel modern di DKI Jakarta masih memiliki sekitar 30% keterisian untuk beras premium. Artinya, ritel tidak sepenuhnya kosong, tetapi distribusi pasokan ke jaringan ritel masih perlu diperbaiki.
“Namun, itu tadi, hambatannya di distribusi. Distribusinya lambat sehingga yang lainnya belum terbagi,” ujarnya.
Ito menegaskan hambatan tersebut bukan pada pengiriman Bulog ke DC. Pemerintah kini fokus mengawal agar pasokan yang sudah berada di DC dapat dibagikan secara lebih merata ke ritel.
“Bukan dari Bulog-nya ke DC-nya, justru kita sekarang kita lagi menjaga supaya DC itu rata,” katanya.
Ito juga menjelaskan persoalan beras premium di ritel berbeda dengan kasus beras fortifikasi. Menurut dia, beras fortifikasi yang sebelumnya menjadi perhatian berkaitan dengan produk yang ditarik dari peredaran, sedangkan keterbatasan beras premium di sejumlah ritel berkaitan dengan distribusi yang belum merata.
“Beda, itu fortifikasi. Fortifikasi lain,” kata Ito.
Dia menjelaskan, beras fortifikasi pada dasarnya merupakan beras medium yang ditambahkan vitamin agar memiliki kandungan gizi seperti beras premium. Namun, berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan, ditemukan persoalan pada label dan kandungan vitamin sejumlah produk yang diklaim sebagai beras fortifikasi.
Sementara itu, Ito mengatakan pasokan beras premium tidak hanya berasal dari Bulog, tetapi juga produsen swasta.
“Produsen swasta juga ada juga. Kan itu kan dari Bulog kan 10 persen. Sisanya kan dari swasta,” katanya.
Bulog Pasokan Beras Premium ke Ritel
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan Bulog menyiapkan sekitar 507 ton beras premium per hari untuk kebutuhan seluruh Indonesia. Jumlah tersebut sekitar 10 persen dari kebutuhan nasional, sedangkan 90 persen lainnya didukung pihak swasta.
“Untuk beras premiumnya saja. Nah ini kan baru 10 persen dari kebutuhan nasional, nah yang sisanya 90 persen itu didukung dan di-support oleh teman-teman pihak swasta,” ujar Rizal.
Untuk beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), Bulog menyalurkan hampir 4.000 ton per hari ke seluruh Indonesia.
“Untuk beras SPHP, Bulog itu per tiap hari ada lebih kurang hampir 4.000 ton per hari yang kita salurkan ke seluruh tanah air,” katanya.
Rizal mengatakan pemerintah, Bulog, dan pihak swasta terus bersinergi untuk menjaga ketersediaan dan keterjangkauan beras sekaligus stabilisasi harga.
“Intinya kami dari pemerintah, Bulog, dan seluruhnya bersinergi dengan pihak-pihak swasta, penggilingan-penggilingan swasta untuk menjamin ketersediaan dan keterjangkauan serta stabilisasi harga pangan beras di seluruh tanah air,” ujar Rizal.
Adapun harga eceran tertinggi (HET) yang menjadi acuan yakni Rp12.500 per kilogram untuk beras medium dan Rp14.900 per kilogram untuk beras premium.
Rizal menambahkan, pasokan yang sudah tersedia di pasar perlu segera didistribusikan agar sampai ke pengecer dan ritel di desa-desa. Dalam waktu dekat, Koperasi Merah Putih juga akan menambah saluran penyaluran beras medium dan premium di desa.





























