Kementan: B100 Mampu Perkuat Ketahanan Energi Nasional

0
sawit-untuk-biodiesel
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Kementerian Pertanian merasa optimis bahwa program Biodiesel (B) 100 akan menjadi produk lokal unggulan yang mampu memperkuat ketahanan energi nasional.

Kementerian Pertanian (Kementan) secara resmi melaksanakan uji coba perdana produk Biodiesel (B)100 di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, baru-baru ini.

Biodiesel adalah bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari bahan alami yang terbarukan seperti minyak nabati dan hewani. Karena memiliki sifat fisik yang sama dengan minyak solar, biodiesel dapat digunakan sebagai bahan bakar pengganti untuk kendaraan bermesin diesel.

Selama ini, biodiesel masih dicampur dengan bahan bakar minyak bumi dengan perbandingan tertentu. Tapi dengan teknologi pengembangan B100, biodiesel mengandung 100 persen bahan alami, tanpa dicampur dengan minyak fosil.

“B100 adalah energi masa depan kita. Ini adalah peluang besar karena produksi CPO kita sebanyak 41,6 juta ton. Pada kurun waktu 2014 – 2018, produksi CPO meningkat 29,5 persen setiap tahunnya .Bisa dibayangkan berapa triliun rupiah yang bisa dihemat. Ke depannya kita sudah tidak akan tergantung lagi dengan BBM impor,” papar Peneliti Utama Bidang Ekofisiologi Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar Kementerian Pertanian, Prof. Dr Dibyo Pranowo.

Produk B100 merupakan salah satu inovasi yang dihasilkan oleh Kementan melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan). Para peneliti Balitbangtan mengembangkan reaktor biodiesel multifungsi yang sudah mencapai generasi ke-7. Mesin ini dapat mengolah 1.600 liter bahan baku setiap harinya.

“Impian Indonesia ciptakan biodiesel B100 dari CPO berhasil terwujud. Bahan bakar yang berasal dari 100 persen CPO dengan rendemennya 87 persen ini masih terus dikembangkan. Semua tidak ada campuran,” katanya.

Sebelum mengembangkan B100, Indonesia telah berhasil mengembangkan B20 menuju B30. Selama kurun waktu 2014 – 2018, perkembangan B20 di Indonesia pun cukup pesat. Pada 2018, produksi biodiesel B20 mencapai 6,01 juta kiloliter meningkat 82,12% dibanding 2014 sebesar 3,30 juta kiloliter.

Meskipun demikian, Indonesia masih mengimpor solar 10,89 juta kiloliter. “Mencermati hal tersebut, pengembangan B100 menjadi sebuah keniscayaan,” tukasnya.

Pengembangan biodiesel B100 diharapkan memiliki banyak dampak positif. Di antaranya, B100 telah teruji lebih efisien. “Perbandingannya saja untuk satu liter B100 bisa menempuh perjalanan hingga 13,4 kilometer sementara satu liter solar hanya mampu sembilan kilometer. Ini sudah terbukti efisien,” katanya.

Dampak positif lainnya, B100 merupakan energi ramah lingkungan. Sebagai contoh, karbonmonoksida (CO) biodiesel B100 lebih rendah 48% dibanding solar.

Pengembangan B100 juga diharapkan berpengaruh positif terhadap kesejahteraan petani sawit. Sawit Indonesia hingga kini masih menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar. Ekspor CPO diperkirakan mencapai 34 juta ton. Tapi jika hanya mengekspor dalam bentuk mentah, harga jualnya lebih rendah bila dibandingkan bentuk produk turunan.

“Dalam situasi ini, diharapkan dengan langkah hilirisasi melalui peningkatan daya serap biodiesel ini dapat menjadi fondasi kita untuk menciptakan hilirisasi sawit dengan produk akhir yang lain,” kata dia.

Peneliti Utama Bidang Ekofisiologi Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar Kementerian Pertanian, Prof. Dr Dibyo Pranowo mengatakan, dari seluruh analisis, hanya satu determinan yang perlu dikaji kembali, yaitu karbon residu yang dihasilkan dari B100 CPO Sawit. Sedangkan 19 determinan lainnya sudah lolos uji.

“Sampai sekarang ini kami sudah memproduksi hampir 2 ton dengan menggunakan reaktor biodiesel buatan sendiri. Produksi ini merupakan penyempurnaan parameter dengan metode dry oil,” urainya.

“Dalam 1 bulan ini, percobaan telah dilakukan dengan pengaplikasian B100 CPO aawit untuk bahan bakar kendaraan. Kendaraan yang dipergunakan adalah Hilux,” ujar Dibyo.

Dia menambahkan, dalam uji coba tersebut kendaraan double cabin sudah menempuh jarak 1.600 km menggunakan bahan bakar B100 CPO aawit. Tidak lama lagi, setelah 2.000 km akan dibongkar mesin kendaraan tersebut untuk meneliti karbon residu yang ditimbulkan.

“Ada beberapa bahan biodiesel, misalkan dari kemiri sunan, nyampulung, pongamia, kelapa, kemiri sayur, termasuk dari biji karet,” ungkapnya.

Saat ditanya kenapa CPO sawit menjadi yang utama, Dibyo menjelaskan penggunaan CPO sawit merupakan yang terbaik sampai saat ini. Hal itu juga dilihat dari skala jumlah industri sawit yang sudah siap dan juga pasokan yang melimpah. ***SH

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini