Pembaca sekalian ….
Presiden Prabowo Subianto punya obsesi untuk melipatkan produksi kakao di dalam negeri. Obsesi itu bukan tanpa alasan yang jelas. Menurut dia, selama melakukan safari ke berbagai negara beberapa hari lalu, banyak sekali negara yang meminta Indonesia untuk memasok kebutuhan cokelat. Apalagi, harga cokelat saat ini tengah melonjak.
“Ternyata harga cokelat dunia lagi sangat tinggi dan banyak berharap (dapat pasokan) cokelat dari kita,” ujar Prabowo di Solo, baru-baru ini.
Saat ini harga cokelat dunia sedang naik signifikan karena pasokan yang rendah. Banyak negara penghasil cokelat di Afrika dan Amerika Latin tengah mengalami gagal panen.
Itu pula sebabnya, Prabowo menegaskan bahwa pemerintah mulai saat ini akan segera mempercepat pembibitan hingga peremajaan lahan pertanian kakao. “Kita juga harus segera mengupayakan pembibitan baru, peremajaan baru. Ini kita sudah akan lakukan,” tegas Prabowo menandaskan.
Harga cokelat sendiri memang berada di level yang cukup tinggi. Saat ini harganya dilaporkan mencapai sekitar US$ 7 ribuan atau sekitar Rp 114 juta per ton (kurs Rp 16.300). Harganya sempat naik tinggi di awal tahun hingga di atas US$ 11 ribu atau sekitar Rp 179 juta per ton.
Pembaca majalah ini yang kami banggakan,
Obsesi Presiden Prabowo yang akan menggenjot produksi kakao di negara ini, kami coba kupas tuntas di Rubrik Liputan Khusus Edisi 155 Agustus 2025 ini.
Persoalannya, ungkap Ketua Dewan Kakao Indonesia, Soetanto Abdoellah, lebih dari 60 persen tanaman kakao di lapangan berusia di atas 20 tahun. Selain itu, 10 persen tanaman kakao berasal dari benih yang tidak diketahui standar mutunya. Dampaknya, produktivitas kakao di kebun rakyat relatif rendah, yakni kurang dari 0,4 ton per hektar.
Banyak petani enggan menebang pohon kakao tua mereka karena kakao merupakan sumber pendapatan utama. Selain itu, kompensasi biaya hidup yang diberikan pemerintah selama masa peremajaan dinilai tidak cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari mereka.
Pembaca yang kami hormati,
Untuk mengisi Rubrik Laporan Utama kami siapkan tema bahasan yang tak kalah menarik yakni Rencana Pemerintah Menerapkan Program B50 Mulai tahun 2026. Ternyata rencana pemerintah ini bakal menghadapi tantangan yang cukup berat.
Menurut Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), tantangan berat dimaksud terutama terkait dengan ketersediaan dan stabilitas pasokan bahan baku yang berasal dari minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO). Selain itu, biaya produksi biodiesel yang lebih tinggi dari minyak solar belakangan ini bakal membuat BPDP (Badan Pengelola Dana Perkebunan) kedodoran dalam menyiapkan subsidi untuk biodiesel.
“Karena itu, kami mendorong pemerintah agar membuat kebijakan yang kondusif untuk menjaga semangat para produsen biofuel,’ pinta Wakil Ketua Umum Bidang Komunikasi dan Promosi Aprobi, Catra de Thouars saat membuka seminar tersebut.
Masukan yang disampaikan Aprobi tersebut cukup beralasan. Paling tidak, pengusaha sawit yang terwadahi dalam Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) juga menyatakan pandangan yang hampir sama.
Di luar kedua rubrik andalan tersebut, seperti biasa, kami juga telah menyiapkan artikel atau berita berita lain yang tak kalah hangat dan atraktifnya.
Akhirnya, dari balik meja redaksi, kami ucapkan selamat menikmati sajian kami. ***































