Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa pemerintah telah menyiapkan skema investasi sebesar Rp 371 triliun untuk mendukung program hilirisasi pertanian.
Demikian disampaikan Mentan Amran dalam sambutannya yang disampaikan secara luring pada acara Rembuk Utama dan Expo Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) 2025, Sabtu (20/9).
Mentan Amran menyampaikan, hilirisasi merupakan salah satu dari empat program prioritas Presiden Prabowo Subianto, selain swasembada pangan, penyediaan pangan bergizi, dan pengembangan biofuel.
“Mimpi besar kita adalah membangun hilirisasi secara masif. Pemerintah sudah menyiapkan investasi sebesar Rp 371 triliun, dengan tahap awal Rp 9,9 triliun yang digunakan untuk pengadaan bibit tebu, kakao, kelapa, kopi, mente, lada, dan pala,” ujarnya.
“Bantuan ini diberikan secara gratis kepada petani. Kami mohon KTNA se-Indonesia mengawal dan memastikan program ini berjalan sukses,” sambungnya.
Lebih lanjut, Mentan Amran menjelaskan, hilirisasi sektor pertanian memiliki potensi besar dalam meningkatkan nilai tambah produk nasional. Ia menekankan pentingnya mengolah hasil pertanian tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi diproses menjadi produk turunan yang memiliki daya saing tinggi di pasar ekspor.
Sebagai contoh, ia menyebut komoditas kelapa. Saat ini, nilai ekspor kelapa Indonesia mencapai Rp24 triliun. Namun, bila hasil kelapa diolah lebih lanjut menjadi produk seperti minyak kelapa murni (VCO) dan santan instan, nilai ekonominya diperkirakan bisa meningkat secara signifikan.
“Bayangkan jika komoditas lain seperti kakao, kopi, dan pala juga diolah di dalam negeri. Ekonomi desa akan bergerak, pendapatan petani meningkat, dan ekspor kita melesat berkali lipat,” ucapnya.
Selain hilirisasi, Mentan Amran juga menyampaikan capaian pertanian nasional sepanjang 11 bulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Antara lain, produksi beras naik menjadi 31 juta ton hingga Oktober 2025, stok beras mencapai 4,2 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia, serta kontribusi pertanian pada PDB mencapai 10,52 persen, terbesar dalam sejarah.
“FAO mencatat Indonesia sebagai negara dengan peningkatan produksi pangan terbesar kedua dunia setelah Brasil. Ini buah kerja keras petani, KTNA, dan seluruh pemangku kepentingan. Namun kita tidak boleh berhenti, karena tantangan dunia ke depan semakin berat,” kata Mentan Amran.
Ia menambahkan, pemerintah juga telah mengambil kebijakan strategis untuk terus melindungi petani, diantaranya baru baru sesuai arahan Presiden Prabowo untuk menghentikan impor etanol dan singkong selama kebutuhan bisa dipenuhi produksi dalam negeri.
“Kita punya Presiden yang sangat berpihak kepada petani, selalu memberikan solusi untuk permasalahan para petani, ini yang harus kita syukuri,” tambah Mentan Amran.
Di akhir sambutannya, ia mengajak seluruh jajaran KTNA untuk terus menjadi garda terdepan transformasi pertanian nasional. Menurutnya, KTNA memiliki peran strategis sebagai motor penggerak di tingkat desa dan daerah, yang langsung bersentuhan dengan petani.
“Kita adalah bangsa agraris. Pertanian harus menjadi episentrum ekonomi baru Indonesia. Dengan kerja keras, kolaborasi, dan semangat KTNA, mimpi swasembada pangan dan hilirisasi pertanian bisa terwujud lebih cepat,”tutup Mentan Amran.
Bersamaan Ketua Umum KTNA Nasional, Yadi Sofyan Noor mengatakan bahwa hasil Rembuk KTNA merupakan keputusan bersama yang akan dilaksanakan oleh seluruh anggota KTNA di seluruh Indonesia.
Ia menjelaskan, ada tiga poin penting yang disepakati dalam rembuk tahun ini.
Pertama, peningkatan sumber daya manusia (SDM) menjadi dasar utama pembangunan pertanian. Kedua, percepatan swasembada pangan, khususnya beras.
“Selain SDM, kami juga hadirkan tanaman pangan disini karna KTNA dan Menteri Pertanian sudah bersepakat untuk tahun ini kita swasembada beras dan hitungan kami sebagai pengurus KTNA sudah insyaallah tahun ini yang disebut Swasembada beras Akan kita capai,” kata Yadi.
Berikutnya, Rembuk KTNA 2025 juga menghadirkan Pupuk Indonesia karena pupuk merupakan salah satu poin penting dalam peningkatan produksi pangan. Saat ini akses pemenuhan pupuk bersubsidi sangat sederhana mulai dari pupuk Indonesia hingga sampai diterima oleh gapoktan.
“Tahun ini kita mengangkat tema transformasi teknologi untuk mendukung swasembada pangan. Sesuai data, produksi kita menunjukkan kinerja kita on track. Kebijakan dari Bapak Presiden yang sangat pro rakyat sangat menguntungkan bagi kita petani dan nelayan,” tutup Yadi.
Diketahui acara Rembuk Utama dan Expo KTNA yang ke 54 merupakan wadah bagi masyarakat, mulai dari petani hingga pengusaha, untuk melihat perkembangan teknologi pertanian modern, mengenal inovasi produk pertanian dalam negeri, serta menyaksikan beragam produk UMKM berbasis hasil pertanian yang mendorong ekonomi kerakyatan.
Acara ini diselenggarakan di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (Kaltim), dengan rangkaian pameran sekaligus menjadi media edukasi yang mempertemukan peserta dari 27 provinsi dan 71 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.






























