BOGOR – Mengenal Indonesia tidak cukup dengan memahami wilayah, sejarah, dan sistem pertahanannya. Generasi muda juga perlu mengenali kekuatan ekonomi yang menopang negeri ini, salah satunya sektor perkebunan. Kelapa sawit, kelapa, dan kakao bukan hanya komoditas perdagangan, melainkan sumber penghidupan jutaan orang sekaligus penopang industri nasional.
Perspektif itulah yang dibawa Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia (GPPI) saat mengajak peserta Youth Bootcamp mengunjungi Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI), Jumat, 6 November 2026. Kegiatan yang berlangsung di Teater Fakultas Teknik dan Teknologi Pertahanan (FTTP), Kampus Bela Negara Unhan RI, Bogor, itu menjadi bagian dari rangkaian Conference and Expo on Palm Oil and Others (ICExPO) 2026.
Kunjungan tersebut mempertemukan dunia pendidikan, pelaku usaha, dan kalangan perkebunan dalam satu forum pembelajaran. Peserta tidak hanya memperoleh pembekalan wawasan kebangsaan, tetapi juga diajak memahami kontribusi komoditas perkebunan terhadap perekonomian dan pembangunan Indonesia.
Youth Bootcamp diikuti peserta dari sejumlah institusi pendidikan dan unsur masyarakat. Mereka berasal dari Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Medan, Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi (CWE), Fakultas Agribisnis IPB, perwakilan koperasi, serta kadet Unhan RI.
Pertemuan lintas latar belakang ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa, kadet, calon tenaga profesional perkebunan, dan unsur kelembagaan petani untuk memperluas perspektif. Sektor perkebunan diperkenalkan bukan semata sebagai kegiatan budidaya, melainkan bagian dari kekuatan ekonomi yang berkaitan dengan lapangan kerja, industri pengolahan, perdagangan, dan kesejahteraan masyarakat.
Rangkaian kegiatan dibuka dengan sambutan Kepala Biro Perencanaan, Kerja Sama, dan Hubungan Masyarakat (Karorenkermahumas) Unhan RI, Marsekal Pertama TNI Dedy Ghazi Elsyaf, yang mewakili Rektor Unhan RI. Ketua Delegasi GPPI, Prof. Dr. Ir. Delima Hasri Azahari, M.S., juga menyampaikan sambutan.
Dalam sesi pembekalan, Dedy Ghazi Elsyaf menyampaikan materi wawasan kebangsaan yang dilanjutkan dengan diskusi interaktif. Forum tersebut membahas nilai-nilai kebangsaan dan peran berbagai sektor pembangunan dalam menjaga kepentingan nasional.
Peserta kemudian menyaksikan video profil Unhan RI dan mengikuti sosialisasi universitas yang disampaikan Kepala Bagian Humas Unhan RI, Kolonel Czi Surya Supratman.
Dari lingkungan pertahanan, perhatian peserta kemudian diarahkan pada sektor perkebunan. GPPI bersama mitranya, Solidaridad dan PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), memberikan materi edukasi mengenai kelapa sawit, kelapa, dan kakao.
Ketiga komoditas tersebut memiliki posisi penting dalam struktur ekonomi perkebunan Indonesia. Di belakangnya terdapat rantai usaha panjang yang melibatkan pekebun, perusahaan, koperasi, industri pengolahan, hingga pelaku perdagangan. Karena itu, pengembangan perkebunan tidak berhenti pada peningkatan produksi, tetapi juga menyangkut produktivitas, nilai tambah, daya saing, dan keberlanjutan.
Pengenalan komoditas ini diharapkan membuka pemahaman peserta mengenai tantangan sekaligus peluang sektor perkebunan. Industri perkebunan membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya menguasai aspek teknis budidaya, tetapi juga memahami tata kelola, pengolahan hasil, serta dinamika pasar nasional dan global.
Keterlibatan Solidaridad dan PT RPN memperkaya materi melalui perspektif lembaga yang memiliki perhatian terhadap pengembangan dan keberlanjutan perkebunan. Kolaborasi ini sekaligus mempertemukan pengetahuan akademis dengan pengalaman praktis dari sektor usaha.
Kunjungan ke Unhan RI dalam rangkaian ICExPO 2026 tersebut menunjukkan bahwa pendidikan kebangsaan dan pengenalan sektor ekonomi strategis dapat berjalan beriringan. Bagi generasi muda, memahami pertahanan negara juga berarti mengenali berbagai sumber kekuatan nasional, termasuk kemampuan Indonesia mengelola kekayaan alam dan mengembangkan industri berbasis komoditas unggulan.
Sebab, kekuatan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menjaga kedaulatan wilayah, tetapi juga oleh kapasitas mengelola sumber daya, meningkatkan nilai tambah, dan memastikan hasil pembangunan memberi manfaat bagi masyarakat.



























