Subsidi Pupuk Ditambah, Kementan Minta Penyuluh Dampingi Petani Genjot Produksi

0
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Kementerian Pertanian (Kementan), Dedi Nursyamsi memberikan keterangan pers Training of Trainers (TOT) bagi Widyaiswara, Dosen, Guru, dan Penyuluh Pertanian dengan tema “Pupuk Subsidi dan Peningkatan Produksi Padi dan Jagung Nasional, yang akan dilaksanakan selama 3 hari tanggal 20 – 22 Februari 2024.

Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Kementerian Pertanian (Kementan) mengajak penyuluh pertanian mendampingi petani menggenjot produksi beras dan jagung nasional.

Diketahui, Kementan saat ini tengah fokus meningkatkan produksi padi dan jagung nasional dalam satu tahun ke depan. Salah satunya dengan melakukan akselerasi percepatan tanam di seluruh Indonesia.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengatakan, program akselerasi adalah solusi pasti dalam menekan kebijakan impor pangan, yang diambil oleh pemerintah akibat dampak kemarau panjang yang melanda Indonesia.

“Kebijakan akselerasi tanam ini sangat penting kita lakukan untuk menekan impor yang dilakukan akibat dampak El Nino. Hari ini kita letakan pondasinya agar ke depan kita bisa swasembada,” kata dia.

Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi menjelaskan, saat ini harga beras sedang melambung tinggi. Walaupun menggembirakan bagi para petani, kata dia, kenaikan ini juga akan memberikan kontribusi terhadap inflasi nasional.

Menurut dia, kenaikan harga beras ini mengindikasikan bahwa produksi beras nasional mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun-tahun lalu. Pemicunya disebabkan oleh fenomena El Nino, yang melanda dunia, termasuk Indonesia sejak Februari 2023.

“Sementara di Indonesia sumber irigasi pertanian utamanya berasal dari air hujan, sehingga produksi juga berkurang,” kata Dedi saat memberikan keterangan pers Training of Trainers (TOT) bagi Widyaiswara, Dosen, Guru, dan Penyuluh Pertanian dengan tema ‘Pupuk Subsidi dan Peningkatan Produksi Padi dan Jagung Nasional’, Jakarta, Senin (19/2).

Selain El Nino, sambung Dedi, pemangkasan alokasi pupuk subsidi yang terjadi sejak 2014 hingga saat ini juga menyebabkan produksi pertanian, khususnya beras dan jagung ikut mengalami penurunan.

“Setelah kita telusuri, ternyata sejak 2014 alokasi pupuk subsidi itu kurang lebih 9,5 juta ton dan itu berlangsung terus sampai dengan sekitar 2018-2019 sedikit turun, 2020 turun lagi dan terakhir 2024 turun signifikan,” kata dia.

Penurunan alokasi pupuk ini disebabkan oleh meningkatnya harga bahan baku pupuk, khususnya Urea dan KCL, yang sebagian besar diproduksi oleh Rusia yang sedang berperang melawan Ukraina.

Sisi lain, kata Dedi, peningkatan harga pupuk ini tidak diikuti oleh penambahan alokasi subsidi pupuk. Alokasi subsidi pupuk, kata dia, relatif konstan alias tidak berubah sekitar Rp 25 triliun, terakhir 26 triliun 2024.

“Nah, dengan sendirinya dan tentu alokasi jumlah pupuk itu berkurang bahkan 2014 itu hanya sekitar 4,8 juta ton, bayangkan dari 9,5 menjadi hanya 4,8 juta ton. Jadi, selain El Nino, masalah pupuk ini juga memberikan kontribusi terhadap penurunan produksi,” kata dia.

Oleh karena itu, Mentan Amran berkali-kali memohon kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar alokasi pupuk subsidi ditambah. Gayung bersambut, Jokowi pada 2 Januari 2024, memerintahkan agar alokasi pupuk subsidi ditambah jadi Rp 14 triliun.

“Jadi luar biasa ini sebetulnya, dengan harga yang dulu yang masih relatif tinggi itu kurang lebih ada sekitar 2,5 juta ton Urea dan NPK. Tapi, sekarang harga pupuk turun, jadi semestinya lebih tinggi dari itu. Alhamdulillah alokasi pupuk 2024 yang asalnya sekitar 4,7-4,8 juta ton menjadi 7,2-7,3 juta ton,” ucap Dedi.

Dedi meminta petani tidak khawatir, karena alokasi tambahan pupuk subsidi tersebut sedang diproses. Dia meminta petani untuk menghabiskan stok pupuk nasional yang masih ada kurang lebih 1,8 juta ton di awal Junuari ini.

“Artinya ini cukup untuk Okmar (Oktober Maret) bahkan cukup sampai dengan April. Oleh karena itu, para petani habiskan saja dulu stok pupuk itu. Untuk kebutuhan nanti akan segera menyusul Rp 14 triliun atau yang 2,5 juta ton pupuk Urea dan NPK,” ucap Dedi.

Dedi berharap penyuluh segera mendampingi pentani meningkatkatkan produksi beras dan jagung. Sebab, saat ini negara-negara eksportir beras, India, Vietnam, dan Myanmar menahan produksinya untuk kepentingan domestik mereka masing-masing.

“Jadi sekarang walaupun kita punya duit belum tentu kita bisa beli beras. Apalagi kalau kita nggak punya duit. Oleh karena itu, solusinya kita harus menggenjot produksi beras dan jagung nasional kita,” kata dia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini