
Sebanyak 1.383 ekor sapi perah hasil investasi tiba di Pelabuhan Tanjung Intan, Cilacap, Jawa Tengah, Minggu (1/2). Rinciannya, 1.094 ekor dikelola PT Lunar Chemplast dan 289 ekor dikelola PT Mazaraat Lokanatura Indonesia sebelum ditempatkan pada jaringan peternak mitra.
Kedatangan sapi ini melanjutkan realisasi investasi 2025 yang telah menghadirkan 33.955 ekor sapi ke berbagai daerah, terdiri atas 13.544 sapi perah dan 20.411 sapi pedaging. Tambahan sapi perah produktif ini segera memperkuat produksi susu segar nasional sekaligus menambah aset ternak di kandang rakyat.
Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan), Hendra Wibawa mengatakan, Â sapi perah tersebut telah diperiksa oleh petugas karantina yang bertugas pada saat kedatangan dan semuanya dinyatakan sehat.
“Namun untuk memastikan keamanan tetap dilakukan karantina selama 14 hari, dilanjutkan pengambilan sampel untuk mendeteksi penyakit, serta vaksinasi, khususnya vaksin lumpy skin disease dan Penyakit Mulut dan Kuku,” ujar dia.
Badan Karantina Indonesia melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Jawa Tengah memastikan sapi impor asal Australia yang masuk melalui pelabuhan ini memenuhi persyaratan karantina dan bebas dari Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK). Tindakan karantina lanjutan dilakukan di Instalasi Karantina Hewan (IKH) Cilacap selama 14 hari.
Penanggung Jawab Satuan Pelayanan Pelabuhan Laut Tanjung Intan Cilacap, Yohanes Kristiawan Artanto menambahkan setelah masa karantina dan sapi dinyatakan sehat serta bebas dari HPHK, akan diterbitkan sertifikat pelepasan.
“Setelah selesai masa karantina dan sapi dinyatakan sehat serta bebas dari HPHK, akan diterbitkan sertifikat pelepasan sebagai syarat agar sapi dapat dipelihara secara aman dan sesuai prosedur,” ujar dia.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementan, Agung Suganda mengatakan, kedatangan sapi perah ini akan memperkuat industri susu nasional.
“Sapi-sapi ini bukan sekadar tambahan populasi. Ini adalah investasi strategis untuk memperkuat fondasi susu nasional dari kandang peternak rakyat. Kita ingin peternak kita naik kelas dengan genetika yang lebih baik dan produktivitas yang lebih tinggi,” kata Agung.
Sepanjang 2025, pola investasi sapi dilakukan melalui joint shipment dan titip pelihara dengan melibatkan koperasi serta peternak. Susu yang dihasilkan terhubung ke industri pengolahan susu sehingga memberi kepastian pasar sekaligus pendampingan manajemen pemeliharaan.
Kementan berharap kedatangan ribuan sapi perah ini dapat meningkatkan produksi susu segar dalam negeri serta mendukung pemenuhan gizi masyarakat secara berkelanjutan.




























