
Nusantara Melon Fest 2025, dijadwalkan akan digelar pada 17–19 Oktober 2025 di Kabupaten Kuningan. Didorong oleh semangat anak-anak muda, acara ini diinisiasi sebagai bentuk kepedulian terhadap dunia pertanian, pemberdayaan UMKM, dan pelestarian kearifan lokal.
Ketua Steering Committee #1 Nusantara Melon Fest sekaligus Founder eQuaNik Agri Nusantara, Pipin Aripin, mengungkapkan bahwa perjalanan panjang festival ini dimulai sejak Mei 2025 melalui rangkaian pre-event yang telah digelar lima kali.
“Saya sempat agak ragu sebetulnya di dalam melaksanakan rangkaian event Melon Fest ini, karena kami susun rangkainya begitu panjang. Dari mulai bulan Mei kemarin hingga saat ini di pre event kelima, dan insyaallah nanti puncaknya kita akan laksanakan di bulan Oktober tahun 2025,” ujarnya di Jakarta, Kamis (18/9).
Pipin menjelaskan bahwa fokus utama Nusantara Melon Fest adalah pada hasil nyata yang berdampak jangka panjang.
“Mudah-mudahan sesuai dengan tagline kami yaitu bisa memberikan sebuah kebermanfaatan yang berkelanjutan. Kebermanfaatan yang tidak terasa hari ini oleh kami, tapi juga bisa dirasakan oleh anak cucu kita di masa depan,” ungkapnya.
Pipin juga mengakui bahwa perjalanan menyelenggarakan festival ini tidak mudah. Banyak tantangan yang dihadapi, mulai dari adu domba, tekanan sosial, hingga upaya menjatuhkan nama baik.
“Alhamdulillah terakhir dari mulai pre-event 1, pre-event 2, pre-event 3, pre-event 4, dan sekarang pre-event 5. Dan insya Allah nanti puncaknya ada di Oktober nanti di Kuningan,” sambungnya.
Nusantara Melon Fest akan menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari pertanian, peternakan, business matching, hingga kebudayaan. Salah satu perhatian utama dalam festival ini adalah pelestarian batik sebagai bagian dari warisan budaya bangsa.
“Makanya pada pelaksanaan Nusantara Melon Fest ini, kami merangkul para pelaku pengusaha batik, atau UMKM batik, atau pengrajin batik,” katanya.
Ia menambahkan, ada satu rangkaian acara khusus yang ditujukan sebagai kampanye budaya bagi generasi muda, dengan menghadirkan 2.000 pelajar SMA dari berbagai sekolah di Kabupaten Kuningan untuk serentak mengenakan batik.
“Kegiatan ini juga didaftarkan ke Museum Rekor Indonesia (MURI), sebagai bentuk kebanggaan. Tujuannya? Supaya mereka punya trigger, supaya muncul rasa bangga dan semangat,” lanjutnya.
Tak berhenti sampai di situ, lanjutnya, seni membatik juga akan dikenalkan secara langsung melalui kegiatan membatik massal oleh 2.000 pelajar, yang rencananya akan digelar di kawasan Paseban Tri Pacatunggam.
Sementar itu, Direktur Buah dan Florikultura, Kementan, Liferdi Lukman, memberikan apresiasi tinggi kepada Pipin Aripin selaku penggagas Nusantara Melon Fest. Ia menyebut Pipin sebagai sosok anak muda luar biasa yang mampu menggerakkan sesama generasi muda sekaligus mendorong ekonomi lokal di Kuningan.
“Kalau satu jempol kurang, harus dua, bahkan lebih untuk Pipin. Anak muda yang luar biasa,” ujarnya.
Liferdi juga menyoroti bagaimana festival ini berhasil memperkenalkan pertanian modern kepada masyarakat, khususnya anak-anak muda. Ia menyambut baik langkah-langkah yang diambil untuk menunjukkan bahwa bertani bukan lagi sesuatu yang kotor atau kuno, melainkan bisa menjadi bidang yang keren, inovatif, dan berbasis teknologi.
“Ini luar biasa. Teman-teman di Kuningan, termasuk Kang Pipin, telah memulai langkah yang sangat positif. Ini yang kami dorong: pertanian modern yang melibatkan generasi muda,” tambahnya.
Senada, Deputi Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas, Andriko Noto, mengapresiasi peran Pipin Aripin dalam mendorong kesadaran generasi muda terhadap isu pangan dan gizi.
“Saya ingin mengapresiasi juga Kang PIpin. Ini saya datang yang kedua, Kang Pipin ngobrol di ruangan saya. Saya langsung tertarik, kenapa? Karena ini adalah generasi muda,” ungkapnya.
Menurut Andriko, semangat yang diusung melalui Nusantara Melon Fest sejalan dengan visi kemandirian pangan nasional, yaitu bagaimana sumber daya dalam negeri bisa dimaksimalkan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas konsumsi masyarakat.
Kemudian, Deputi Bidang Koordinasi Usaha dan Pertanian, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Widiastuti, menyampaikan apresiasinya terhadap peran anak muda dalam dunia pertanian melalui ajang seperti Nusantara Melon Fest.
“Anak-anak muda sekarang, generasi Z, tidak perlu malu menjadi petani. Justru petani adalah profesi yang hebat, apalagi jika digabungkan dengan teknologi dan inovasi,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antar kementerian dan lembaga untuk mendukung kemandirian pangan nasional menuju target Swasembada Pangan 2027 dan Indonesia Emas 2045.




























