Dalam pidato kenegaraan usai dilantik sebagai Presiden oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Prabowo Subianto mencanangkan perlunya Indonesia bisa berswasembada pangan dalam 4 hingga 5 tahun ke depan.
“Saya yakin, paling lambat 4-5 tahun kita akan swasembada pangan. Bahkan kita siap menjadi lumbung pangan dunia,” tegas Prabowo.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman pun bertekad mewujudkan swasembada pangan dalam 4 tahun ke depan dan menjadikan Indonesia lumbung pangan dunia.
Menurut Amran, sejatinya Indonesia sudah pernah swasembada pangan sebanyak empat kali dan mendapatkan penghargaan food security terbaik dunia dari Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) PBB.
“Kami akan berupaya keras mencapai target tersebut dalam 4 tahun. Bila perlu sebelum 4 tahun,” kata Amran di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kanpus Kementan), Jakarta, baru-baru ini.
Pembaca majalah ini yang kami banggakan…
Tekad pemerintah untuk mewujudkan swasembada pangan tersebut, kami kupas dalam Rubrik Liputan Khusus di Majalah HORTUS Archipelago Edisi November 2024.
Lebih lanjut Amran menguraikan, di pemerintahan Prabowo pihaknya akan fokus mewujudkan swasembada komoditas strategis secara bertahap. “Pangan dulu, beras terutama. Kemudian jagung. Satu-satu kita akan beresin,” ujarnya.
Dikatakannya, beras jadi komoditas yang akan diprioritaskan karena sangat penting untuk ketahanan pangan negara. “Paling utama beras dan jagung. Kalau tidak, bisa bermasalah negeri ini. Dua komoditas itu sangat penting,” kata Amran.
Untuk mempercepat swasembada pangan, Amran, yang kembali menjabat sebagai Menteri Pertanian untuk ketiga kalinya menjelaskan bahwa strategi yang akan ditempuh Kementan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi.
Pembaca sekalian yang kami hormati, untuk Rubrik Laporan Utama pada edisi kali ini kami mengupas mengenai Peta Jalan Hilirisasi Kelapa 2025-2045 yang telah selesai dibuat oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), pada periode pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) yang kedua.
Dengan menggunakan Peta Jalan itu, industri kelapa di Indonesia tak saja bisa mengungguli Filipina, tapi juga berpotensi menjadi pemimpin global dalam industri kelapa dan produk turunannya. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Kabinet Indonesia Maju (Periode 2019-2024), Suharso Monoarfa menyatakan, salah satu faktor utama yang membuat Indonesia tertinggal dari Filipina adalah pemanfaatan kelapa yang belum optimal.
“Kami kalah saing dari Filipina,” ungkap Suharso yang juga merangkap sebagai Kepala Bappenas ketika meluncurkan Peta Jalan Hilirisasi Kelapa 2025-2045, di penghujung September 2024 lalu, di Jakarta.
Kondisi tersebut memang sangat dimungkinkan mengingat kinerja industri kelapa dalam negeri yang sebagian besar dipandang masih bersifat konvensional. Fakta menunjukkan, 99 persen dari perkebunan kelapa di Indonesia dikelola oleh petani perorangan. Hal itu berbeda dengan Filipina, yang telah mampu mengoptimalkan pengolahan kelapa dengan menggunakan tekno
logi yang lebih maju.
Di luar kedua rubrik andalan tersebut, seperti biasa kami juga menyajikan berita atau tulisan yang tak kalah hangat dan menarik di rubrik-rubrik lainnya.
Akhirnya, dari balik meja redaksi, kami ucapkan selamat menikmati sajian kami. ***
BACA/DOWNLOAD: https://drive.google.com/file/d/1bDiSUvPFOgMd-IFlzJZAlilohpGeqSqy/view?usp=sharing






























